Tes Sifat Amanah Santri
Ketekunan dan Kepatuhan Kiai
Iskandar Umar dalam meraih ilmu sangat memuaskan, sehingga mendapat perhatian
khusus dari Abuya Sayyid Muhammad Al Maliki melebihi santri laiinya. Terbukti suatu
ketika seperti biasa, Abuya hendak mengajar, pada waktu itu sedang mengkaji
kitab Sunan Nasa’i. Setelah membaca Al fatihah pertanda kitab akan dibacakan,
Abuya sejenak berhenti memandang para santri
“Maujud Iskandar? (Iskandar ada?)”,
tanya abuya. “Maujud..” jawab salah satu santri yang tak lain adalah beliau sendiri.
“Kemari kamu!” perintah Abuya. Beliau kemudian mendekat, lantas Abuya
mengeluarkan beberapa uang kertas dan menghitungnya. “Uang ini untuk diberukan
roti dan bagikan satu persatu pada faqir miskin di sekitar masjidil haram,
setiap kali pemberian harus satu roti dan niatkan untuk shodaqoh saya, istri
saya dan anak-anak saya. Dan jam tujuh tepat harus sudah di sini.” Perintah Abuya
pada beliau.
Walau cukup berat rasanya, karena
mencari orang miskin di Makkah sungguh teramat sulit, tapi Kiai Iskandar
berusaha untuk tetap melaksanakannya dengan ikhlas. Apalagi terlihat orang
asing memberi dan hanya dengan satu roti, mereka merasa terhina dan seakan
menjatuhkan harga diri mereka. Untuk pertama kalinya beliau merasa canggung,
karena belum saling mengenal. Jadi ketika hendak mendekati si fakir miskin,
beliau sudah menata niat.
Untuk sekali pemberian satu roti
pada satu orang, diniati untuk shodaqoh Abuya. Roti berikutnya untuk istri
Abuya, berikutnya lagi untuk putra-putri Abuya, secara urut. Si faqir pertama
kali marah merasa dihina, karena hanya diberi satu roti, namun berkat
kecerdikan beliau (mengemukakan hadist ‘walau bisyiqqi tamratin’), akhirnya
dapat diterima. Mereka memuji beliau “kok pintar kamu.” Dan begitulah
seterusnya tiap pagi hari. Suatu kali terjadi, beliau yang sedemikian akrabnya
dengan para fakir miskin, tugas beliau membagi roti semakin lancar saja, hingga
tersisa berpuluh-puluh menit. Waktu yang masih banyak, beliau pergunakan untuk
thawaf.
“Membagi roti adalah tugas untuk
mendoakan, nah waktu yang cukup banyak ini biar aku gunakan thawaf di baitullah
saja. Bukankah mendoakan Abuya dengan thowaf di Ka’bah adalah lebih mustajab?”
pikir beliau sambil melangkahkan kakinya ke baitullah. Setelah thawaf dan
mendoakan Abuya, beliau segera pulang seperti biasanya menghadiri pengajian
Abuya, walau hanya menjumpai Al fatihah pembukaan dan Al fatihah penutup saja.
Waktu yang belum terlambat bagi beliau,
masih sisa 15 menit, namun entah kenapa ketika beliau hendak menyalami tangan
Abuya, sang guru tak menghiraukannya, acuh tak acuh atas kedatangan beliau,
sambil terus membacakan kitab Sunan Nasa’i. Padahal biasanya kalau beliau hadir
langsung ditutup dengan Al fatihah. Sejenak Abuya terdiam, memandang beliau
yang menunduk takdhim, “Anta Khain! (Kau khianat!)” sentak Abuya tegas. “Ma ana
bi khain (Saya tidak khianat)” jawab beliau menunduk. “Apa yang barusan kau
kerjakan tadi?” lanjut Abuya. Beliau terbelalak kaget, lantas beliau menjawab, “Saya
tadi thawaf mendoakan anda. “Justru itu yang membuatmu berkhianat.” Tegas Abuya.
****
Betapa disiplinnya Abuya mendidik
para santri, melakukan hal yang mulia tapi di luar tugas, sudah dijuluki pengkhianat.
Apalah jadinya kalau melakukan hal buruk?
___________________
Sumber :
Petuah Bijak – A. Yasin Muchtarom.
Hal 111-114
Gambar :
Google

Tidak ada komentar:
Posting Komentar