Senin, 08 Mei 2017

Pentingnya Rasa Cinta


Pentingnya Rasa Cinta

Ada seorang santri dari Indonesia menuntut ilmu di Rubath Tarim pada zaman Habib Abdullah bin Umar Asy Syathiri. Setelah di sana 4 tahun, santri intu minta pulang. Dia pamit minta izin pulang kepada Habib Abdullah. “Habib, saya mau pulang saja.” “Lho, kenapa?” tanya beliau. “Bebal otak saya ini. Untuk menghafalkan setengan mati. Tidak pantas saya menuntut ilmu. Saya minta izin mau pulang.” “Jangan dulu, sabar”, “sudah bib. Saya sudah 4 tahun bersabar. Sudah tidak kuat. Lebih baik saya menikah saja.” :Sebentar, saya mau mengetes dulu bagaimana kemampuanmu menuntut ilmu.” “Sudah bib, saya menghafalkan setengah mati. Tidak hafal-hafal.”


Habib Abdullah kemudian masuk ke kamar, mengambil surat-surat untuk santri itu. Pada masa itu, surat-surat dari Indonesia ketika sampai di Tarim tidak langsung diberikan. Surat tersebut tidak akan diberikan kecuali setelah santri itu menuntut ilmu selama 15 tahun. Habib Abdullah menyerahkan seluruh surat itu kepadanya, kecuali satu surat. Setelah diterima, dibacalah surat-surat itu sampai selesai. Satu surat tersisa kemudian diserahkan.

“Ini surat siapa?” tanya Habib. “Oh, itu surat ibu saya.” “Bacalah!”. Santri itu menerima surat dengan perasaan senang. Kemudian dibaca sampai selesai. Saat membaca, kadang dia tersenyum sendiri, sesekali diam merenung, dan sesekali dia bersedih. “Sudah kamu baca?” tanya beliau lagi. “Sudah.” “Berapa kali?”, “satu kali”. “Tutup surat itu! Apa kata ibumu?”, “Ibu saya berkata saya disuruh nyantri yang bener. Bapak sudah membeli mobil baru. Adik saya diterima bekerja di sini, dan lain-lain.” Isi surat yang panjang itu dia berhasil menceritakannya dengan lancar dan lengkap. Tidak ada yang terlewatkan.

“Baca satu kali kok hafal? Katanya bebal gak faham-faham. Sekarang sekali baca kok langsung faham dan bisa menyampaikan.” Kata Habibi dengan pandangan serius. Santri itu bingung tidak bisa menjawab. Dia menganggap selama ini dirinya bodoh dan tidak punya harapan. Sudah berusaha sekuat tenaga mempelajari ilmu agama, dia merasa gagal. Tetapi membaca surat ibunya satu kali saja, dia langsung paham dan hafal.

Habib Abdullah akhirnya menjelaskan, kenapa semua ini bisa terjadi. Beliau mengatakan: “Sebab ketika engkau membaca surat dari ibumu itu dengan perasaan gembira. Ini Ibumu. Coba jika engkau membaca syariat Nabi Muhammad dengan bahagia dan bangga, ini adalah Nabiku, niscaya engkau sekali baca pasti langsung  hafal”

`Kisah di atas ditranskrip dari salah satu ceramah Habib Jamal bin Thoha Baagil.

___________________
Sumber :

Petuah Bijak (1). A. Yasin Muchtarom Hal 15-17
Gambar :
http://www.tafassahu.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Page