Abu Nawas
Isi Perut Bumi
Seminggu
tak diundang raja, Abunawas jadi penasaran. Maka ia lalu punya rencana untuk
menggelar jeratnya yang jenaka. “Jika ada salah seorang Menteri mendengar
ceritaku, maka kenalah jeratku!” kata dalam hati Abunawas. Karena itu, pagi
sekali dia sudah tiba di pasar. Dengan
duduk bersila sebentar saja, orang sudah mengerumuni Abunawas. Lelaki cerdik
yang jenaka itu, sudah sangat terkenal. Karena itu ketika akan mengatakan
bercerita tentang dunia isi perut bumimaka orang lalu mengerumuninya karena
ingin mendengar.
“Hamba
kini berteman dengan sepuluh teman baru. Mereka selalu hilir mudik dari tempat
kita ini, ke dalam perut bumi. Dan tahulah hamba, bahwa perut bumi itu indah
tiada tara. Segalanya sudah tersedia di sana, dan kita tinggal minta apa saja
yang kita perlukan, tanpa membeli”. “Kalau kita ingin buah-buahan, Abunawas?”
tanya seorang penonton. “Ya tinggal mengangkat tangan saja seaya berkata ingin
buah apa. Maka datanglah buah-buahan yang kita inginkan itu. Mau nanas, langsung
datang nanas, mau pisang langsung datang pisang. Mau kelapa muda, langsung
muncul kelapa muda yang sudah dilubangi, tinggal minum. Asyik kan?”.
“Nah
kalau ingin permen atau es krim, gimana
Om?” tanya seorang bocah. “Sama juga. Kita ingin permen apa. Es rasa apa? Mau
es rasa coklat, rasa jeruk, rasa nanas? Ada,” sahut Abunawas. Selagi asyik
bercerita, mata aAbunawas sekilas melihat seorang lelaki tinggi besar,
menyelinap diantara penonton. “Nah, itu pasti Sang Menteri Midun. Setelah
mendengar ceritaku, pasti dia melapor kepada Raja...” kata Abunawas dalam hati.
Maka cerita pun dibuat semakin asyik untuk didengar. “Itulah keadaan di perut
bumi, semua serba tersedia. Jadi kalian tidak perlu susah payah untuk
mendapatkan sesuatu,” kata Abunawas lebih lanjut.
Mendengar
cerita Abunawas di hadapan puluhan orang itu, Si Midun berfikir bahwa Abunawas
membual. Diam-diam dia keluar dari kerumunan orang, dan langsung menghadap
Raja. “Abunawas bercerita bahwa dia tahu isi perut bumi. Puluhan orang
berkerumun dekat pasar, untuk mendengar ceritanya. Ia membual.....” kata si
Midun. “Apa yang diceritakannya?” tanya Raja. Maka Midun langsung menceritakan,
tentang apa yang diceritakan oleh Abunawas. “Lalu, bagaimana pendapatmu?” tanya
Raja. “Kita suruh dia membuktikan. Tak mungkin ada sepuluh kawannya. Yang bisa
keluar masuk dari daratan ke perut bumi, pasti dia mengada-ada,” sahut Midun.
Maka dalam waktu yang tidak terlalu lama, Abunawas sudah berada di hadapan
Raja.
“Katanya,
kamu punya sepuluh kawan yang bisa melihat isi perut bumi?” tanya Raja. “Benar
sekali, ya tuanku Raja,”. “Karena itu, kau bisa tahu semua isi perut bumi?”.
“Benar sekali.....” sahut Abunawas, cepat. “Sekarang juga, kau harus tunjukkan
kepada kami, di mana sepuluh kawanmu itu. Dan karena Midun tak percaya dengan
ceritamu, maka.....” “Ya. Ke sepuluh kawanmu itu harus membuktikan. Aku akan
mengikuti langkah mereka menuju perut bumi,” kata si Midunmenyela kata-kata
Raja. “Kalau memang benar ceritamu, hadiah seperti biasa sudah tersedia. Kalau
kau bohong, hukuman tentu akan dijatuhkan,” kata Raja. Abunawas mengangguk dan
tersenyum tenang. “Hamba akan tunjukkan sekarang juga,” katanya kemudian.
Lalu
rombongan itu berjalan meninggalkan istana, mengikuti langkah Abunawas. Si
Midun yang berkulit hitam legam, berjalan dengan angkuhnya di samping raja.
Sorotan matanya yang merah, seolah menunjukkan bahwa ia akan menang perang.
Sesampai di rumah Abunawas, Raja dan rombongan Menteri dipersilakan menunggu di
halaman. Abunawas masuk ke dalam, tidak berapa lama kemudian sudah keluar lagi,
sambil membawa sebuah kotak yang terbuat dari anyaman bambu.
Dengan
tenang, Abunawas lalu mengajak rombongan menuju halaman belakang rumah, di mana
Abunawas lalu menunduk-nunduk seperti mencari sesuatu. “Mencari apa, hai Abu,”
tanya Raja, heran. “Tidak, ya Raja. Ini.... sudah hamba ketemukan....” sahut
Abunawas, seraya menunjukkan telunjuknya ke suatu lubang tanah. “Untuk apa
lubang itu Abu?” tanya Raja. “Untuk jalan keluar masuk, dari perut bumi,” sahut
Abunawas. “Tidak mungkin. Tidak mungkin. Bagaimana sepuluh kawanmu itu bisa
masuk ke dalam lubang sekecil ini?” tanya Midun penasaran. “Kenapa tidak? Coba
lihat ini. Sepuluh kawanku akan masuk ke dalam, menuju perut bumi....” kata
Abunawas, seraya mengeluarkan beberapa ekor jangkrik dari kotak yang dibawanya.
“Jadi,
kau berkawan dengan jangkrik?” tanya Midun, geram. “Betapa tidak? Apa aku
mengatakan bahwa kawanku adalah keledai, atau orangutan...., atau manusia?
Tidak kan? Nah, inilah kawanku. Sekarang, silakan kau Midun.... ikuti langkah
kesepuluh kawanku ini, menuju perut bumi. Silakan.... “ kata Abunawas, seraya
menuding jari telunjuknya ke lubang jangkrik. Mendengar hal itu, Raja tertawa
terbahak-bahak. Tapi sebaliknya yang dialami midun. Keringat deras justru mengalir.
___________________
Sumber :
Majalah Mentari Putera Harapan
Tanggal 6 - 12 November 1995
Halaman 7

Tidak ada komentar:
Posting Komentar