Jumat, 19 Februari 2016

Abu Nawa - Isi Perut Bumi

Abu Nawas
Isi Perut Bumi

            Seminggu tak diundang raja, Abunawas jadi penasaran. Maka ia lalu punya rencana untuk menggelar jeratnya yang jenaka. “Jika ada salah seorang Menteri mendengar ceritaku, maka kenalah jeratku!” kata dalam hati Abunawas. Karena itu, pagi sekali dia sudah tiba di pasar.    Dengan duduk bersila sebentar saja, orang sudah mengerumuni Abunawas. Lelaki cerdik yang jenaka itu, sudah sangat terkenal. Karena itu ketika akan mengatakan bercerita tentang dunia isi perut bumimaka orang lalu mengerumuninya karena ingin mendengar.

            “Hamba kini berteman dengan sepuluh teman baru. Mereka selalu hilir mudik dari tempat kita ini, ke dalam perut bumi. Dan tahulah hamba, bahwa perut bumi itu indah tiada tara. Segalanya sudah tersedia di sana, dan kita tinggal minta apa saja yang kita perlukan, tanpa membeli”. “Kalau kita ingin buah-buahan, Abunawas?” tanya seorang penonton. “Ya tinggal mengangkat tangan saja seaya berkata ingin buah apa. Maka datanglah buah-buahan yang kita inginkan itu. Mau nanas, langsung datang nanas, mau pisang langsung datang pisang. Mau kelapa muda, langsung muncul kelapa muda yang sudah dilubangi, tinggal minum. Asyik kan?”.


            “Nah kalau ingin  permen atau es krim, gimana Om?” tanya seorang bocah. “Sama juga. Kita ingin permen apa. Es rasa apa? Mau es rasa coklat, rasa jeruk, rasa nanas? Ada,” sahut Abunawas. Selagi asyik bercerita, mata aAbunawas sekilas melihat seorang lelaki tinggi besar, menyelinap diantara penonton. “Nah, itu pasti Sang Menteri Midun. Setelah mendengar ceritaku, pasti dia melapor kepada Raja...” kata Abunawas dalam hati. Maka cerita pun dibuat semakin asyik untuk didengar. “Itulah keadaan di perut bumi, semua serba tersedia. Jadi kalian tidak perlu susah payah untuk mendapatkan sesuatu,” kata Abunawas lebih lanjut.

            Mendengar cerita Abunawas di hadapan puluhan orang itu, Si Midun berfikir bahwa Abunawas membual. Diam-diam dia keluar dari kerumunan orang, dan langsung menghadap Raja. “Abunawas bercerita bahwa dia tahu isi perut bumi. Puluhan orang berkerumun dekat pasar, untuk mendengar ceritanya. Ia membual.....” kata si Midun. “Apa yang diceritakannya?” tanya Raja. Maka Midun langsung menceritakan, tentang apa yang diceritakan oleh Abunawas. “Lalu, bagaimana pendapatmu?” tanya Raja. “Kita suruh dia membuktikan. Tak mungkin ada sepuluh kawannya. Yang bisa keluar masuk dari daratan ke perut bumi, pasti dia mengada-ada,” sahut Midun. Maka dalam waktu yang tidak terlalu lama, Abunawas sudah berada di hadapan Raja.

            “Katanya, kamu punya sepuluh kawan yang bisa melihat isi perut bumi?” tanya Raja. “Benar sekali, ya tuanku Raja,”. “Karena itu, kau bisa tahu semua isi perut bumi?”. “Benar sekali.....” sahut Abunawas, cepat. “Sekarang juga, kau harus tunjukkan kepada kami, di mana sepuluh kawanmu itu. Dan karena Midun tak percaya dengan ceritamu, maka.....” “Ya. Ke sepuluh kawanmu itu harus membuktikan. Aku akan mengikuti langkah mereka menuju perut bumi,” kata si Midunmenyela kata-kata Raja. “Kalau memang benar ceritamu, hadiah seperti biasa sudah tersedia. Kalau kau bohong, hukuman tentu akan dijatuhkan,” kata Raja. Abunawas mengangguk dan tersenyum tenang. “Hamba akan tunjukkan sekarang juga,” katanya kemudian.

            Lalu rombongan itu berjalan meninggalkan istana, mengikuti langkah Abunawas. Si Midun yang berkulit hitam legam, berjalan dengan angkuhnya di samping raja. Sorotan matanya yang merah, seolah menunjukkan bahwa ia akan menang perang. Sesampai di rumah Abunawas, Raja dan rombongan Menteri dipersilakan menunggu di halaman. Abunawas masuk ke dalam, tidak berapa lama kemudian sudah keluar lagi, sambil membawa sebuah kotak yang terbuat dari anyaman bambu.

            Dengan tenang, Abunawas lalu mengajak rombongan menuju halaman belakang rumah, di mana Abunawas lalu menunduk-nunduk seperti mencari sesuatu. “Mencari apa, hai Abu,” tanya Raja, heran. “Tidak, ya Raja. Ini.... sudah hamba ketemukan....” sahut Abunawas, seraya menunjukkan telunjuknya ke suatu lubang tanah. “Untuk apa lubang itu Abu?” tanya Raja. “Untuk jalan keluar masuk, dari perut bumi,” sahut Abunawas. “Tidak mungkin. Tidak mungkin. Bagaimana sepuluh kawanmu itu bisa masuk ke dalam lubang sekecil ini?” tanya Midun penasaran. “Kenapa tidak? Coba lihat ini. Sepuluh kawanku akan masuk ke dalam, menuju perut bumi....” kata Abunawas, seraya mengeluarkan beberapa ekor jangkrik dari kotak yang dibawanya.


            “Jadi, kau berkawan dengan jangkrik?” tanya Midun, geram. “Betapa tidak? Apa aku mengatakan bahwa kawanku adalah keledai, atau orangutan...., atau manusia? Tidak kan? Nah, inilah kawanku. Sekarang, silakan kau Midun.... ikuti langkah kesepuluh kawanku ini, menuju perut bumi. Silakan.... “ kata Abunawas, seraya menuding jari telunjuknya ke lubang jangkrik. Mendengar hal itu, Raja tertawa terbahak-bahak. Tapi sebaliknya yang dialami midun. Keringat deras justru mengalir.

___________________
Sumber :
Majalah Mentari Putera Harapan
Tanggal 6 - 12 November 1995
Halaman 7

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Page