Om Didit Yang Menemani Kami Di Rumah
Ira,
Gito dan Maya saling berpandangan. Mereka baru pulang dari sekolah dan membaca
pesan di whiteboard. Nenek di Yogja sakit. Papa dan mama pergi menjenguk, Om
Didit akan menemani kalian. Kami pulang besok. Ira segera menggantikan tugas
mamanya. Ia mengajak makan kedua adiknya. Selain makan, ia mencuci piring, lalu
bergabung dengan Gito dan Maya di sofa ruang tamu. Keduanya seperti agak
bingung.
“Katanya
Om Didit mau datang, kok belum muncul?” keluh Gito. Agar adik-adiknya tenang,
ia menelpon ke HP pamannya. Om Didiet adalah adik mama. Sifatnya periang dan
menyenangkan. Ia adalah seorang wartawan. “Om Didit sudah dekat. Ia habis
membeli radio kecil, ntuk hadiah pemenang lomba!” ujar Ira selesai menelpon.
“Memang ada lomba apa?” tanya Maya. “Entahlah, katanya kita bertiga yang akat
ikut lomba!” jawab Ira. Saat itu, terdengan deru motor yang berhenti di depan
rumah.
“Horee...
Om Didit datang!” seru Gito dengan riang. Tiba-tiba suasana rumah menjadi
hidup. Om Didit membawa tas yang cukup besar. Isi tasnya kamera, tape recorder,
buku dan lain-lain. “He..he..he..he.., ada 3 anak kehilangan induknya ya?” sapa
Om Didit sambil menggoda. “Memangnya kami ini ayam?” kata Ira merajuk.
Keempatnya itu duduk di sofa, Om Didit mengeluarkan tiga radio kecil. “Asyik
kan?” kata Om Didit. “Sekarang perhatikan sekeliling ruangan. Kalian punya
waktu satu menit. Tulislah sebanyak mungkin benda yang kalian lihat di ruang
tamu ini!”.
Dengan
semangat, anak-anak mengikuti petunjuk. Setelah lomba selesai, Om Didit
menggelar jawaban ketiga anak itu di atas meja. “Ayo, tentukan sendiri siapa
pemenangnya!” ujar Om Didit. “Gito yang menang. Dia menulis yang paling banyak.
Meja, sofa, taplak, vas bunga, foto, majalah, kunci pintu, koran, lampu, TV,
VCD!” kata Ira. “Bagus, ronde pertama gito yang menang. Sekarang ronde kedua,
tulislah apa yang akan kalian lakukan nanti malam sebelum tidur, agar bisa
tidur dengan tenang walaupun tidak ada yang menjaga!” kata Om Didit. “Memang Om
tidak menginap?” tanya Ira.
Om
Didit menggelengkan kepala. “Kalian sudah kelas lima, kelas empat dan kelas
tiga, bertiga lagi. Waktu seusia kalian,
aku tidak takut menunggu rumah sendirian!”. Ketiga anak itu mulai menulis.
Jawaban mereka lalu digelar di meja. “Wah, mbak ira yang menang. Ia menuliskan;
kunci pintu dan jendela, periksa apakah kompor sudah mati, padamkan lampu,
buang sampah, cuci kaki tangan, bedo’a lalu tidur. Jawaban Maya dan aku tidak
lengkap,” kata Gito.
“Bagus,
kalian memang juri yang baik. Jadi Gito menang satu ronde dan Ira menang satu
ronde. Sekarang akan kita lihat, siapa yang akan menang di ronde ketiga!” kata
Om Didit, lalu mengeluarkan uang dan memberikan kepada masing-masing anak Rp. 1.500,00.
“Nah, pergilah dan kembali lagi dalam waktu 15 menit. Pakai uang ini untuk
menolong, atau menggembirakan orang lain. Ingat, bukan untuk kepentingan
kalian. Ini untuk belajar, agar tidak mementingkan diri sendiri!” Ketiga anak
itu pergi. Tak sampai 15 menit anak-anak itu kembali.
“Aku ingin
menyenangkan Om, Om kubelikan kerupuk.” Kata Gito sambil menyerahkan sekantung
kerupuk. “Curang kamu! Kamu menyogok Om,” protes Maya. “Om bukan juri, jadi
tidak bisa disogok! Lagipula, kerupuknya cukup banyak, jadi nanti kita nikmati
bersama! Kata Om”. “Aku pergi ke depan warung, di sana ada yang menyewakan
otopet (sekuter). Satu jam Rp. 1.500,00. Ada tiga anak yang menonton
kawan-kawannya bermain otopet. Orangtua mereka tidak punya uang, jadi aku sewa
satu jam untuk mereka bertiga. Mereka sangat senang,” cerita Maya.
“Kalau
aku, ah, uangku kuberikan kepada nenek Fatmah. Kasian aku melihatnya!” kata
Ira. “Matanya buta dan ia sudah tua!”. “Nenek Fatmah? Kata Samsul, nenek Fatma
itu banyak uangnya. Tiap bulan dapat kiriman uang dari anaknya, yang bekerja di
luar negeri!” ujar Gito. “Oh ya? Wah aku tidak tahu itu!” keluh Ira. “Tidak
apa, yang penting sudah berbuat baik!” ujar Om Didit, “Cuma lain kali harus di
cek!”.
“Ronde
ketiga Maya yang menang. Dia menolong tiga anak yang benar-benar
membutuhkannya. Om tidak butuh kerupuk. Nenek Fatmah juga tidak perlu uang,
jadi kurang tepat sasaranku dan mbak Ira,” kata Gito. “Bagus, kalau begitu,
skor kalian sama. Tidak ada pemenang yang berhak mendapatkan radio. Berarti
radio kecil ini untukku sendiri!” Om Didit memamerkan radio kecil cantik, yang
baru dibelinya.
“Bikin
omba lagi, om, supaya ada pemenangnya!” usul Gito. “Tidak ah. Aku ada tugas.
Tapi begini saja. Kalian bertiga sudah menang. Bagaimana kalau kalian bertiga
mendapat hadiah radio ini? Eh tapi nanti kalian rbut! Pasti akan terjadi, Gito
mau mendengar pertandingan bola. Ira mau mendengar siaran pendidikan dan Maya
mau mendengarkan lagu-lagu. Kan akhirnya jadi ribut! Bisa-bisa aku dimarahi
papa dan mama kalian!”. “Begini saja, radionya digilir. Hari ini Gito yang pegang,
besok Maya dan lusa aku yang pegang!” usul Ira.
“Wah,
pintar kau. Ya sudah, terimalah ini. Semoga kalian terhibur!” kata Om Didit
sambil bangkit berdiri. “Yaa, om Didit mau pergi lagi?” kata Gito. “Ya, Om mau
pulang dulu, ambil pakaian, lalu kembali ke sini untuk menginap!” kata Om
Didit. “Sekalian bawa makan malam kalian!”. “Horeee!” anak-anak bersorak
gembira. “Katanya tak mau menginap!” goda Maya. “Om takut kalau tiga
keponakannya marah,” Om Didit mengendarai motornya. Ketiga anak itu melambaikan
tangan. Lalu masuk rumah, untuk mencoba radio kecil. Rumah tidak terasa sunyi
lagi, walaupun papa dan mama pergi. @(PUJI
RAHAYU)
___________________
Sumber :
Majalah Mentari edisi 313
5-11 Februari 2006
Hal 28


Tidak ada komentar:
Posting Komentar