Kamis, 03 Maret 2016

Om Didit Yang Menemani Kami Di Rumah

Om Didit Yang Menemani Kami Di Rumah

            Ira, Gito dan Maya saling berpandangan. Mereka baru pulang dari sekolah dan membaca pesan di whiteboard. Nenek di Yogja sakit. Papa dan mama pergi menjenguk, Om Didit akan menemani kalian. Kami pulang besok. Ira segera menggantikan tugas mamanya. Ia mengajak makan kedua adiknya. Selain makan, ia mencuci piring, lalu bergabung dengan Gito dan Maya di sofa ruang tamu. Keduanya seperti agak bingung.

            “Katanya Om Didit mau datang, kok belum muncul?” keluh Gito. Agar adik-adiknya tenang, ia menelpon ke HP pamannya. Om Didiet adalah adik mama. Sifatnya periang dan menyenangkan. Ia adalah seorang wartawan. “Om Didit sudah dekat. Ia habis membeli radio kecil, ntuk hadiah pemenang lomba!” ujar Ira selesai menelpon. “Memang ada lomba apa?” tanya Maya. “Entahlah, katanya kita bertiga yang akat ikut lomba!” jawab Ira. Saat itu, terdengan deru motor yang berhenti di depan rumah.


            “Horee... Om Didit datang!” seru Gito dengan riang. Tiba-tiba suasana rumah menjadi hidup. Om Didit membawa tas yang cukup besar. Isi tasnya kamera, tape recorder, buku dan lain-lain. “He..he..he..he.., ada 3 anak kehilangan induknya ya?” sapa Om Didit sambil menggoda. “Memangnya kami ini ayam?” kata Ira merajuk. Keempatnya itu duduk di sofa, Om Didit mengeluarkan tiga radio kecil. “Asyik kan?” kata Om Didit. “Sekarang perhatikan sekeliling ruangan. Kalian punya waktu satu menit. Tulislah sebanyak mungkin benda yang kalian lihat di ruang tamu ini!”.

            Dengan semangat, anak-anak mengikuti petunjuk. Setelah lomba selesai, Om Didit menggelar jawaban ketiga anak itu di atas meja. “Ayo, tentukan sendiri siapa pemenangnya!” ujar Om Didit. “Gito yang menang. Dia menulis yang paling banyak. Meja, sofa, taplak, vas bunga, foto, majalah, kunci pintu, koran, lampu, TV, VCD!” kata Ira. “Bagus, ronde pertama gito yang menang. Sekarang ronde kedua, tulislah apa yang akan kalian lakukan nanti malam sebelum tidur, agar bisa tidur dengan tenang walaupun tidak ada yang menjaga!” kata Om Didit. “Memang Om tidak menginap?” tanya Ira.

            Om Didit menggelengkan kepala. “Kalian sudah kelas lima, kelas empat dan kelas tiga, bertiga lagi.  Waktu seusia kalian, aku tidak takut menunggu rumah sendirian!”. Ketiga anak itu mulai menulis. Jawaban mereka lalu digelar di meja. “Wah, mbak ira yang menang. Ia menuliskan; kunci pintu dan jendela, periksa apakah kompor sudah mati, padamkan lampu, buang sampah, cuci kaki tangan, bedo’a lalu tidur. Jawaban Maya dan aku tidak lengkap,” kata Gito.

            “Bagus, kalian memang juri yang baik. Jadi Gito menang satu ronde dan Ira menang satu ronde. Sekarang akan kita lihat, siapa yang akan menang di ronde ketiga!” kata Om Didit, lalu mengeluarkan uang dan memberikan kepada masing-masing anak Rp. 1.500,00. “Nah, pergilah dan kembali lagi dalam waktu 15 menit. Pakai uang ini untuk menolong, atau menggembirakan orang lain. Ingat, bukan untuk kepentingan kalian. Ini untuk belajar, agar tidak mementingkan diri sendiri!” Ketiga anak itu pergi. Tak sampai 15 menit anak-anak itu kembali.

“Aku ingin menyenangkan Om, Om kubelikan kerupuk.” Kata Gito sambil menyerahkan sekantung kerupuk. “Curang kamu! Kamu menyogok Om,” protes Maya. “Om bukan juri, jadi tidak bisa disogok! Lagipula, kerupuknya cukup banyak, jadi nanti kita nikmati bersama! Kata Om”. “Aku pergi ke depan warung, di sana ada yang menyewakan otopet (sekuter). Satu jam Rp. 1.500,00. Ada tiga anak yang menonton kawan-kawannya bermain otopet. Orangtua mereka tidak punya uang, jadi aku sewa satu jam untuk mereka bertiga. Mereka sangat senang,” cerita Maya.

            “Kalau aku, ah, uangku kuberikan kepada nenek Fatmah. Kasian aku melihatnya!” kata Ira. “Matanya buta dan ia sudah tua!”. “Nenek Fatmah? Kata Samsul, nenek Fatma itu banyak uangnya. Tiap bulan dapat kiriman uang dari anaknya, yang bekerja di luar negeri!” ujar Gito. “Oh ya? Wah aku tidak tahu itu!” keluh Ira. “Tidak apa, yang penting sudah berbuat baik!” ujar Om Didit, “Cuma lain kali harus di cek!”.

            “Ronde ketiga Maya yang menang. Dia menolong tiga anak yang benar-benar membutuhkannya. Om tidak butuh kerupuk. Nenek Fatmah juga tidak perlu uang, jadi kurang tepat sasaranku dan mbak Ira,” kata Gito. “Bagus, kalau begitu, skor kalian sama. Tidak ada pemenang yang berhak mendapatkan radio. Berarti radio kecil ini untukku sendiri!” Om Didit memamerkan radio kecil cantik, yang baru dibelinya.

            “Bikin omba lagi, om, supaya ada pemenangnya!” usul Gito. “Tidak ah. Aku ada tugas. Tapi begini saja. Kalian bertiga sudah menang. Bagaimana kalau kalian bertiga mendapat hadiah radio ini? Eh tapi nanti kalian rbut! Pasti akan terjadi, Gito mau mendengar pertandingan bola. Ira mau mendengar siaran pendidikan dan Maya mau mendengarkan lagu-lagu. Kan akhirnya jadi ribut! Bisa-bisa aku dimarahi papa dan mama kalian!”. “Begini saja, radionya digilir. Hari ini Gito yang pegang, besok Maya dan lusa aku yang pegang!” usul Ira.

            “Wah, pintar kau. Ya sudah, terimalah ini. Semoga kalian terhibur!” kata Om Didit sambil bangkit berdiri. “Yaa, om Didit mau pergi lagi?” kata Gito. “Ya, Om mau pulang dulu, ambil pakaian, lalu kembali ke sini untuk menginap!” kata Om Didit. “Sekalian bawa makan malam kalian!”. “Horeee!” anak-anak bersorak gembira. “Katanya tak mau menginap!” goda Maya. “Om takut kalau tiga keponakannya marah,” Om Didit mengendarai motornya. Ketiga anak itu melambaikan tangan. Lalu masuk rumah, untuk mencoba radio kecil. Rumah tidak terasa sunyi lagi, walaupun papa dan mama pergi. @(PUJI RAHAYU)

___________________
Sumber :
Majalah Mentari edisi 313
5-11 Februari 2006

Hal 28

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Page